INDONESIA GOLF COURSE OWNER ASSOCIATION
CONTACT US
Phone. (+62-21) 5790-3545
Fax. (+62-21) 5790-0477
Email:
info@aplgi.org  
HOME        ABOUT US        NEWS         MEMBER       GALLERY       LINK       CONTACT US
 
NEWS

09 March 2015
Membujuk Jack Nicklaus Mendesain Lapangan Golf Indonesia

Budiarsa Sastrawinata

Ketua I APLGI Budiarsa Sastrawinata pernah menolak permintaan ayahnya untuk berlatih golf. Di benaknya kala itu, golf olahraga yang kurang menarik dan hanya cocok untuk orang tua. Kini, golf sudah menjadi bagian hidupnya. Golf memberi banyak kesenangan, termasuk pertemanannya dengan Jack Nicklaus, pegolf top dunia yang paling banyak memenangi major championship.

-------------------------------

Pada tahun 1973 kebetulan teman ayahnya membuka sekolah golf di Driving Range Senayan, Jakarta. Butuh waktu hampir satu tahun untuk meyakinkan Budiarsa yang saat itu masih duduk di bangku SMA untuk ikut program sekolah golf itu. “Sampai sudah tiga angkatan lewat, baru saya mau. Waktu itu saya pulang sekolah dan ayah saya bilang sudah dibelikan satu set stik golf, sepatu, dan bajunya. Kata ayah saya, coba saja dulu. Kalau tidak suka berhenti,” ungkap Budiarsa yang ditemui di kantornya.

Ternyata, dia langsung jatuh hati dengan olahraga ini. Kebetulan dia juga mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Mereka akhirnya menyukai golf dan pergi ke berbagai lapangan golf di luar kota dan luar negeri.

Sampai pada tahun 1987, dia mendapat kepercayaan untuk menangani proyek pembuatan lapangan golf di Serpong yang diprakarsai sejumlah pengusaha, termasuk Ciputra. Mereka ingin membuat lapangan golf yang bagus dan Budiarsa mengusulkan agar Jack Nicklaus yang menjadi desainernya. Sayangnya, surat permintaan yang dikirim Pak Ci-panggilan Ciputra- ditolak oleh Jack yang saat itu masih aktif main di Major.

“Waktu itu saya masih muda, jadi agak nekat dan memutuskan untuk datang langsung menemui Jack Nicklaus di Amerika,” kata Budiarsa. Tanpa membuat janji, dia langsung datang ke kantor Jack di Palm Beach. Walau sempat ditolak, akhirnya dia ditemui seorang vice president-nya. “Besok saya bertemu dengan senior vice president-nya. Mereka bilang sudah mendiskusikan lagi dengan Jack, tapi dia tetap menolak”.

Beruntung di hari ketiga Budiarsa mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Jack. “Tidak sampai setengah jam Jack bilang iya. Mereka yang saya temui sebelumnya sampai bilang dan tanya apa yang saya bilang ke Jack. Saya sendiri juga bingung kenapa Jack akhirnya menerima tawaran itu. Saat itu saya menceritakan soal proyek besar yang akan kami buat di Serpong,” kisah Budiarsa. Dan akhirnya Jack datang ke Indonesia mendesain Damai Indah Golf – BSD Course. Sejak itu, Jack menangani beberapa proyek desain lapangan golf di Indonesia.

Walaupun proyek pembuatan lapangan golf sudah selesai, hubungan Budiarsa dan Jack tidak putus. Sampai saat ini mereka masih berkomunikasi dengan baik. Bahkan suatu kali, saat berkunjung ke Amerika, dia mendapat kesempatan untuk menginap di rumah sang bintang dunia itu.

Sudah sekitar 28 tahun Budiarsa bergelut di bisnis lapangan golf. Bisnis ini menurutnya agak unik dibandingkan dengan bisnis properti dan bisnis lainnya. “Secara finasial parameternya pasti sama apa pun bisnisnya. Tapi, perlakuannya tentu berbeda. Dalam bisnis lapangan golf, kita bisa sambil menikmati. Kalau di properti, tentu ada kebanggaan dan kenikmatan tersendiri kalau kita melihat warga yang tinggak di sana senang. Di lapangan golf, kita senang melihat orang menikmati permainan mereka, dan sekaligus kita sendiri juga bisa menikmati bermain golf,” jelasnya.

Budiarsa optimistis bisnis lapangan golf Indonesia akan terus berkembang. Keberadaan lapangan golf tidak hanya sebagai fasilitas olahraga, tapi dapat memberikan banyak manfaat lain termasuk sebagai ruang terbuka hijau. Persepsi masyarakat umum di Indonesia yang belum menganggap golf sebagai olahraga untuk masyarakat seperti olahraga lain menjadi tantangan bagi para pengusaha lapangan golf. Kenyataannya, di banyak negara lain olahraga ini diminati masyarakat dari berbagai lapisan. Mungkin kesan eksklusif karena jumlah lapangan golf di Indonesia masih terbatas.

“Kami secara konsisten melakukan pertandingan khusus untuk junior. Mulanya tingkat nasional, ASEAN, Asia, dan sekarang sudah menjadi World Championship. Dengan adanya itu pasti ada gairah anak-anak untuk main golf. Ini bukan sekedar upaya melakukan regenerasi, tapi juga pada kategori mengembangkan minat golf,” jelas Budiarsa.

Dengan demikian, kaum muda diharapkan bisa memahami bahwa golf bukan sekedar olahraga, tapi juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Di sisi lain, dia berharap golf menjadi obyek sport tourism. Masih banyak kesempatan yang belum dimanfaatkan. Industri lapangan golf di Indonesia memiliki keunggulan. Selain lapangan yang berkualitas, cuaca di negeri ini memungkinkan orang untuk bermain golf sepanjang tahun. Dengan memberdayakan golf sebagai olahraga, profesi, dan obyek wisata, keberadaan lapangan-lapangan golf akan lebih berkembang dan bermanfaat untuk masyarakat umum.

LATEST NEWS
Badan Profesi PGI Gelar R&A Rules School Level I
Bank BRI-JCB Indonesia Open 2016 - George dan Danny Ingin Banggakan Indonesia
Bank BRI-JCB Indonesia Open 2016 - Gaganjeet Bhullar Ambisi Jadi Juara Lagi
PEMBUKAAN MIZUNO GOLF SCHOOL DAMAI INDAH GOLF-PIK COURSE
APLGI Dukung Superintendent Tambah Ilmu
Hobi Main Golf? Ini Manfaatnya!
Pegolf legendaris Arnold Palmer Tutup Usia
PON XIX - DKI Raih Satu Emas, Jawa Timur Juara Umum
PON XIX - Jawa Timur Panen Emas Golf
 
Other News
 
 
Search
Please enter your search criteria
Copyright © 2015 - 2018 . Indonesian Golf Course Owner Association (APLGI)